VISI

VISI ; MEWUJUDKAN MASYARAKAT DAN KELUARGA YANG SAKINAH DAN SEJAHTERA DUNIA AKHIRAT

Kamis, 27 Januari 2011

TABEL AHLI WARIS DAN BAGIAN WARIS MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM

TABEL AHLI WARIS DAN BAGIAN WARIS  HUKUM WARIS ISLAM INDONESIA MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM ( KHI )
oleh : Nasichun Amin, M.Ag  (Penghulu Muda di KUA Kec. Gresik)

SEBAB / HUBUNGAN
AHLI WARIS
SYARAT
PEROLEHAN HARTA WARIS
DASAR HUKUM
Al-Qur’an / Hadits
Pasal
KHI
A
PERKAWINAN (yang masih terikat status
1.
Istri / Janda
Bila tidak ada anak/cucu
1/4
An-Nisa’ 12
180
Bila ada anak/cucu
1/8
2.
Suami / Duda
Bila tidak ada anak/cucu
1/2
An-Nisa’ 12
179
Bila ada anak/cucu
1/4
B.


NASAB / HUBUNGAN DARAH
1.
Anak Perempuan
Sendirian (tidak ada anak  dan cucu lain)
1/2
An-Nisa’ 11
176
Dua atau anak perempuan tidak ada anak atau cucu laki-laki
2/3
2.
Anak Laki-Laki
Sendirian atau bersama anak / cucu lain (laki-laki atau perempuan)
Ashobah (sisa seluruh harta setelah dibagi pembagian lain)
An-Nisa’ 11 dan Hadist  01
Keterangan : Pembagian antara laki-laki dan perempuan 2 banding 1
3.
Ayah Kandung
Bila tidak ada anak / cucu
1/3
An-Nisa’ 11
177
Bila ada anak / cucu
1/6
4.
Ibu Kandung
Bila tidak ada anak/cucu dan tidak ada dua saudara atau lebih dan tidak bersama Ayah Kandung
1/3
An-Nisa’ 11
178
Bila ada anak/cucu dan / atau  ada dua saudara atau lebih dan tidak bersama  Ayah Kandung
1/6
Bila tidak ada anak/cucu dan tidak ada dua saudara atau lebih tetapi  bersama Ayah Kandung
1/3 dari sisa sesudah diambil istri/janda atau suami/duda
An-Nisa’ 11
5.
Saudara laki-laki atau perempuan seibu
Sendirian tidak ada anak / cucu dan tidak ada  Ayah Kandung
1/6
An-Nisa’ 12
181
Dua orang lebih tidak ada anak / cucu dan tidak ada  Ayah Kandung
1/3
6.
Saudara perempuan kandung atau seayah
Sendirian tidak ada anak / cucu dan tidak ada  Ayah Kandung
1/2
An-Nisa’ 12
182
Dua orang lebih tidak ada anak / cucu dan tidak ada  Ayah Kandung
2/3
7.
Saudara laki-laki kandung atau seayah
Sendirian atau bersama saudara lain dan tidak ada anak / cucu DAN  tidak ada ayah kandung
Ashobah (sisa seluruh harta setelah dibagi pembagian lain)
An-Nisa’ 12 dan Hadits 01
Keterangan : Pembagian antara laki-laki dan perempuan 2 banding 1
8.
Cucu / keponakan (anak saudara)
Menggantikan kedudukan orang tuanya yang menjadi ahli waris. Persyaratan berlaku sesuai kedudukan ahli waris yang diganti
Sesuai yang diganti kedudukannya sebagai ahli waris
Tidak ada / Ijtihad
185
Catatan :
ü Harta peninggalan sebelum dibagi sebagai harta waris terlebih dahulu harus diselesaikan masalah hutang piutang pewaris (yang meninggal) dan biaya pemakaman serta wasiat yang dibolehkan (bila ada). Disamping itu bila si mayit meninggalkan istri (janda) atau suami (duda) dan masih terikat perkawinan perlu dipisahkan lebih dahulu antara harta bawaan (harta yang dipunyai sebelum menikah) dan harta bersama (harta yang diperoleh setelah pernikahan atau harta gono-gini). Sesuai dengan hukum adat bahwa harta bersama/gono-gini dibagi menjadi dua bagian, separuhnya  adalah milik  suami dan separuhnya milik istri.
ü Jadi yang menjadi Harta warisan adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama  sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah(tajhis), pembayaran hutang dan pemberian kerabat (Pasal 171  butir e  KHI ).
ü Kerabat yang tidak memperoleh bagian waris, ANAK ANGKAT atau ORANG TUA ANGKAT dapat memperoleh bagian sebagai HIBAH (ketika pewaris masih hidup) atau sebagai WASIAT WAJIBAH, atau diberi bagian yang tidak boleh lebih dari 1/3 harta warisan sesuai ketentuan pasal 194 s/d 214 KHI.
ü Para ahli waris dapat bersepakat melakukan perdamaian dalam pembagian harta warisan, setelah masing-masing menyadari bagiannya. (pasal 183)
ü Para ahli waris baik secara bersama-sama atau perseorangan dapat mengajukan permintaan kepada ahli waris yang lain untuk melakukan pembagian harta warisan. Bila ada diantara ahli waris yang tidak menyetujui permintaan itu, maka yang bersangkutan dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan Agama untuk dilakukan pembagian warisan.  (pasal 188)

5 komentar:

  1. Saya mau tanya, Ayah saya meninggal 6 tahun yg lalu. Ibu saya membagi warisnya Harta Waris dikurangi hutang Ibu dahulu, hutang tersebut terjadi beberapa tahun setelah Ayah saya meninggal. kemudian sisa Harta tersebut dibagi menjadi 2 bagian, yg oleh Ibu disebut Harta Gono gini, semua orang tahu Harta tersebut adalah Harta bersama, karena Ayah dan Ibu usaha bersama. Setelah sisa Harta tersebut di bagi menjadi 2 bagian, 1/2 sisanya Ibu masih mendapat 1/8 dari sisa Harta, kemudian sisanya dibagi menjadi 7 bagian, kami ada 6 bersaudara dengan 1 anak laki-laki 5 anak perempuan. Jadi Ibu mendapat dari Harta Warisan adalah pelunasan Hutang pribadi Ibu (masih hidup), 1/2 dari sisa harta setelah dikurangi Hutang pribadi ditambah 1/8 dari 1/2 dari sisa Harta. Apakah pembagian warisan menurut Ibu saya tersebut sudah sesuai dengan Hukum Islam? Apakah ada ganjarannya menurut Al-Quran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. harus di cari dahulu harta gono-gini. setelah itu, 50% dari sisa harta setelah di bagi itu digunakan untuk mengurus jenazah dan membayar hutang jenazah dan wasiat (bila ada). hutang ibu dibayarkan dengan bagiannya sendiri. karena hutang itu pribadi oleh si ibu. tidak boleh di bayarkan dengan harta ahli waris. harta yang di tinggalkan ahli awris itu kemudian dibagi sesuai dgn bagian masing2 ahli waris yang ada.
      ibu :1/8, 5 anak perempuan 2/3, 1 anak laki sisanya dari harta yang telah dibagikan.

      Hapus
  2. Ass. Wr. Wb
    saya mau tanya... kalu saya (istri) punya harta sebuah rumah hibah dari nene......
    nah pertanyaaanya. apakah anak bawan suami yang bukan dari saya. (menikah duda punya anak 1 laki-laki) dapet bagian ga? dari harta hibah dari nene saya (rumah). tolong penjelasannya...
    terima kasih....

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum...
    Mohon bimbingan dan penjelasannya, pada awalnya ayah telah meninggal kemudian dengan kesepakatan keluarga harta warisan tidak dibagikan terlebih dahulu, selanjutnya digunakan oleh Ibu untuk usaha sampai berkembang dan maju, jika ada ahli waris telah meninggal dunia sedangkan Ibu masih ada, bagaimana status hak waris dari almarhum (punya Istri dan 2 anak kecil) ..., terima kasih sebelumnya

    BalasHapus
  4. Ass Wr Wb,
    Mohon penjelasannya, Abang saya meninggal (belum menikah) tidak ada wasiat dan tidak ada anak-istri, ayah-ibupun sudah tdk ada. sekarang tinggal saya dan dua adik tiri perempuan (seibu), 2 org adik tiri ini sepakat tidak mau membuat surat kuasa (kepada saya) utk mengurus waris, padahal saya adik kandung almarhum, bagaimana caranya saya agar dapat mengurus harta warisan abang kandung saya tersebut? terima kasih.
    Wassalam,
    YT
    lismant (at) yahoo (dot) com

    BalasHapus